Allan Pope: CIA dan Intervensi di Indonesia
Pada era 1950-an, Indonesia yang baru saja merdeka menjadi panggung tarik-menarik geopolitik global. Di tengah ketegangan Perang Dingin, Washington melihat Jakarta sebagai negara non-blok yang condong ke kiri, sehingga dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan Amerika di Asia Tenggara. Dalam konteks ini, Amerika mengambil langkah-langkah rahasia untuk mempengaruhi arah politik Indonesia.
Salah satu aksi paling kontroversial adalah keterlibatan Allan Lawrence Pope, seorang pilot Amerika yang dikirim dengan misi intelijen dari CIA. Pope bukan hanya pilot biasa; ia menjadi ujung tombak operasi rahasia untuk mendukung pemberontakan PRRI di Sumatera dan Permesta di Sulawesi. Misinya meliputi pengiriman senjata, amunisi, serta melancarkan serangan udara terhadap fasilitas militer dan sipil Indonesia.
Pesawat B-26 Invader yang dikemudikan Pope beroperasi secara ilegal, menyerang wilayah seperti Ambon, Balikpapan, dan bahkan kapal-kapal dagang. Tujuannya jelas: melemahkan pemerintah pusat, mendorong kemenangan pemberontak, dan memaksa Soekarno menyesuaikan kebijakan luar negerinya agar lebih pro-Barat. Semua dilakukan dengan upaya menutupi jejak, mengklaim senjata pemberontak berasal dari pasar gelap.
Namun, keberuntungan Pope tidak bertahan lama. Pada Mei 1958, pesawatnya berhasil ditembak jatuh oleh Angkatan Laut Republik Indonesia, dengan bantuan pesawat tempur Mustang AURI. Pope ditangkap hidup-hidup, dan identitasnya sebagai agen CIA terbongkar melalui dokumen dan bukti fisik yang dibawa dalam pesawatnya.
Penangkapan ini menjadi tamparan keras bagi diplomasi Amerika. Klaim Washington bahwa Pope hanyalah “kontraktor independen” sulit dipercaya, karena bukti fisik menunjukkan keterlibatan langsung AS dalam mendukung pemberontakan domestik Indonesia. Dunia menyaksikan bahwa negara adidaya pun bisa melanggar prinsip non-intervensi.
Kasus Pope kemudian berlanjut ke ranah hukum. Ia diadili di Indonesia, menjadi simbol pengaruh asing yang merongrong kedaulatan. Namun di balik proses hukum, ia juga menjadi kartu tawar-menawar politik penting antara Presiden Soekarno dan Presiden AS John F. Kennedy.
Setelah negosiasi bertahun-tahun, Pope dibebaskan pada 1962 sebagai bagian dari upaya Amerika meredakan ketegangan. Pembebasan ini menandai kompromi diplomatik, sekaligus menjadi pengingat bahwa intervensi asing bisa memicu konflik bilateral yang serius.
Kisah Pope menjadi pelajaran penting tentang kerawanan kedaulatan suatu bangsa terhadap permainan politik global. Seorang pilot dan operasi rahasianya bisa mengguncang stabilitas nasional, menunjukkan bahwa ancaman tidak selalu datang dari medan perang langsung.
Selain itu, kasus ini memperlihatkan bagaimana intelijen negara adidaya bisa “menyusup” jauh ke dalam urusan domestik negara lain. Operasi rahasia, dukungan pemberontakan, dan sabotase menjadi alat untuk mengubah peta politik tanpa harus menghadapi tekanan langsung dari diplomasi publik.
Sejarah Allan Pope mengingatkan Indonesia bahwa menjaga kedaulatan memerlukan kewaspadaan berlapis: diplomasi yang cerdas, kesiapan militer, dan pengawasan intelijen sendiri. Ini bukan sekadar pelajaran masa lalu, tetapi pengingat bahwa politik internasional selalu licin, dan negara yang muda sekalipun bisa menjadi target intervensi asing.