Showing posts with label Daerah. Show all posts

Redaksi 10:27 PM
Konflik antar kelompok etnis telah menjadi fenomena lama di banyak negara, termasuk di Asia Tenggara. Di Myanmar, negara ini menghadapi puluhan hingga ratusan kelompok bersenjata etnis yang berperang memperebutkan wilayah dan otonomi. Sementara itu, di Indonesia, wilayah Papua juga memiliki sejarah perang suku, meski skalanya lebih kecil dan bersifat tradisional.

Perang suku di Papua sering dipicu oleh perselisihan tanah, sengketa ekonomi, dan pertikaian adat. Meskipun intensitasnya tidak seperti perang bersenjata besar, dampak sosial tetap signifikan bagi komunitas lokal. Pertempuran ini biasanya melibatkan kelompok kecil yang saling menyerang menggunakan senjata tradisional, panah, dan kadang senjata modern sederhana.

Di Papua, jumlah kelompok suku yang pernah terlibat konflik sulit dihitung secara pasti, namun diperkirakan ada puluhan kelompok suku aktif, dengan beberapa wilayah seperti Puncak, Pegunungan Bintang, dan Yahukimo menjadi hotspot konflik. Pemerintah Indonesia sering menurunkan aparat kepolisian atau TNI untuk mengawasi dan mencegah eskalasi konflik.

Sebaliknya, Myanmar memiliki lebih dari 30 kelompok bersenjata etnis utama, termasuk Kachin, Shan, Karen, dan Rakhine, yang mengelola wilayah sendiri dengan struktur militer dan administratif de facto. Konflik di Myanmar sering berlangsung dalam skala besar, melibatkan ribuan tentara dan senjata berat, serta memicu jutaan pengungsi internal.

Skala konflik ini membuat Myanmar menjadi contoh perang etnis yang kompleks. Setiap kelompok bersenjata etnis memiliki tuntutan berbeda, mulai dari otonomi lokal hingga kemerdekaan penuh, sehingga negosiasi politik menjadi sulit. Papua, meski konfliknya lebih kecil, menunjukkan dinamika serupa dalam hal perebutan sumber daya dan wilayah.

Tradisi perang suku di Papua berbeda dengan Myanmar karena bersifat lebih ritualistik dan mengikuti aturan adat tertentu. Dalam beberapa kasus, konflik bisa berhenti jika ada negosiasi adat atau upacara perdamaian. Sementara itu, konflik di Myanmar hampir selalu disertai kekerasan bersenjata modern dan intervensi militer.

Meski demikian, akar masalah konflik di kedua wilayah terkadang mirip. Persoalan akses tanah, ekonomi, dan marginalisasi kelompok tertentu menjadi pemicu utama. Di Papua, perselisihan bisa terjadi antar suku tetangga, sedangkan di Myanmar, perselisihan bisa terjadi antara etnis minoritas dengan pemerintah pusat.

Dampak konflik di Papua cenderung terbatas pada desa atau distrik tertentu, sedangkan di Myanmar, perang etnis dapat memengaruhi seluruh negara bagian. Konflik Myanmar telah menimbulkan krisis pengungsi, kerusakan infrastruktur, dan gangguan ekonomi yang lebih luas.

Dalam hal jumlah, konflik suku di Papua lebih kecil. Sekitar 30–40 kelompok suku yang sering terlibat bentrokan dibandingkan dengan 30-an kelompok bersenjata etnis besar di Myanmar yang masing-masing memiliki ribuan anggota. Skala jumlah anggota yang terlibat sangat berbeda.

Pemerintah Indonesia menekankan pendekatan preventif dan hukum adat untuk mengendalikan perang suku, sementara Myanmar menggunakan intervensi militer besar dan perjanjian damai yang tidak selalu konsisten. Strategi ini menunjukkan perbedaan kapasitas negara dalam mengelola konflik internal.

Konflik suku di Papua kadang melibatkan pihak kepolisian sebagai mediator. Hal ini berbeda dengan Myanmar, di mana pihak ketiga internasional atau ASEAN jarang berhasil menjadi mediator efektif karena kompleksitas konflik dan jumlah aktor yang terlibat.

Dalam beberapa tahun terakhir, laporan menyebut konflik suku di Papua cenderung meningkat akibat persaingan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan migrasi penduduk. Hal ini memperburuk ketegangan antar suku, meski masih dalam skala lokal.

Myanmar menghadapi tekanan internasional lebih besar karena konflik etnis memicu pelanggaran HAM, pengungsian massal, dan perhatian media global. Papua, walaupun memiliki konflik serius, jarang menjadi sorotan internasional karena skala dan intensitasnya lebih rendah.

Kedua wilayah menunjukkan bagaimana ketimpangan ekonomi dan marginalisasi etnis menjadi pemicu utama konflik. Di Papua, pembangunan yang tidak merata menjadi penyebab bentrokan suku. Di Myanmar, dominasi etnis Bamar dan marginalisasi etnis minoritas memperburuk konflik.

Perbedaan lain terlihat pada struktur organisasi kelompok. Kelompok bersenjata di Myanmar memiliki komando militer terpusat, logistik, dan strategi perang modern, sementara perang suku di Papua lebih longgar, tradisional, dan bersifat komunitas lokal.

Namun, dampak psikologis bagi masyarakat lokal tidak kalah berat. Korban tewas, kehilangan harta, dan trauma akibat konflik terjadi di kedua wilayah, meskipun skalanya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa konflik etnis kecil pun tetap menimbulkan kerugian serius.

Dalam hal durasi, konflik di Myanmar telah berlangsung puluhan tahun, sedangkan perang suku di Papua biasanya episodik, muncul dan mereda tergantung kondisi lokal. Meski demikian, pola perseteruan lama tetap ada di beberapa wilayah pegunungan.

Pemerintah Indonesia mencoba menekan konflik suku dengan program pembangunan, dialog adat, dan operasi keamanan terbatas, sedangkan Myanmar masih menghadapi kesulitan menyelesaikan konflik etnis yang luas karena jumlah aktor dan wilayah yang terlibat sangat besar.

Analisis ini menunjukkan bahwa meskipun skala konflik berbeda, akar masalah yang memicu perang etnis di Papua dan Myanmar memiliki kesamaan, yaitu perebutan tanah, ekonomi, dan identitas etnis.

Kesimpulannya, perang suku di Papua lebih kecil dan terkontrol dibanding konflik etnis di Myanmar. Namun, kedua wilayah menjadi contoh bagaimana ketegangan etnis dan sosial bisa berkembang menjadi konflik bersenjata, baik tradisional maupun modern.

Redaksi 6:30 PM
Ancama konglomerat Tiongkok, Wang Jianling, kepada Presiden Donald Trump untuk membuat 20 ribu rakyat AS pengangguran melalui PHK menjadi sorotan publik di Indonesia.

Pemilik Dalian Wanda ini mengaku mempunyai investasi 10 milar dolar di AS yang mempekerjakan 20 ribu orang lebih.

Menurutnya, Trump harus bersikap baik kepada perusahaan-perusahaan dari Tiongkok agar ancaman tersebut tak jadi dilakukan.

Ternyata, menurut WSJ, Dalian Wanda saat ini, masih dipimpin Barack Obama, sedang diinvestigasi oleh otoritas AS atas pembelian besar-besaran perusahaan-perusahaan film di Hollywood.

Investigasi tersebut untuk memastikan ada tidaknya campur tangan pemerintah Tiongkok dalam pembelian yang dapat membuat monopoli dalam industri film dan hiburan.

Dalian Wanda saat ini juga sedang memproduksi film besar-besaran (baca) untuk menyaingi Hollywood.

Tiongkok sedang membutuhkan investasi besar-besaran untuk menghindari adanya stagnasi pada pertumbuhan ekonomi mereka.

Redaksi 8:00 PM
DHAJ-NEWS -- Kedatangan delegasi Iran ke Indonesia pada akhir pekan lalu dibarengi dengan pernyataan minat perusahaan pelat merah negara tersebut untuk membangun dua kilang pengolahan minyak mentah di Indonesia.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja menyebut delegasi Iran menyatakan siap membangun satu kilang secara mandiri, sementara satu kilang lainnya melalui kerjama dengan PT Pertamina (Persero).

“Satu kilang akan dibangun melalui badan hukum swasta, sementara Kilang Bontang harus bekerjasama dengan Pertamina,” kata Wiratmaja, dikutip dari laman Kementerian ESDM, Senin (28/11).

Namun sesuai dengan prosedur yang berlaku, Wiratmaja menyebut Iran harus siap bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain yang siap merayu Pertamina untuk dilibatkan dalam pembangunan kilang Bontang.

“Besaran kapasitas kilang yang ingin dibangun Iran, berkisar antara 100 ribu hingga 300 ribu barel per hari. Nanti supply crude-nya dari mereka,” tambahnya dilaporkan cnnindonesia.com.

Redaksi 4:00 PM
DHAJ-NEWS -- Iran tengah mempertimbangkan untuk memiliki pangkalan angkatan laut (AL) di Yaman dan Suriah. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Mohammad Hossein Bagheri.

"Mungkin di beberapa titik kita akan membutuhkan basis di pantai Yaman dan Suriah. Memiliki pangkalan angkatan laut jarak jauh sama dengan memiliki tenaga nuklir. Hal ini sepuluh kali lebih penting dan menciptakan pencegahan," kata Bagheri seperti dikutip dari ABC News, Minggu (27/11/2016).

Bagheri menambahkan bahwa pengaturan platform angkatan laut di lepas pantai negara-negara tersebut membutuhkan infrastruktur terlebih dahulu. Ia mengatakan Iran mempunyai kemampuan mengatur platform permanen untuk keperluan militer di Teluk Persia dan di tempat lain, demikian dilaporkan sindonews.com.

Redaksi 1:28 PM
DHAJ-NEWS -- Di sela-sela pameran Indo Defence 2016 Defense Studies sempat mendatangi dan berbincang-bincang dengan beberapa pihak yang akan terlibat dalam Proyek Kapal Selam Mini. Proyek ini akan memakan waktu tiga tahun dan sedapat mungkin akan menggunakan komponen dari dalam negeri.

Proyek kapal selam mini dengan biaya berkisar Rp 200 - 300 milyar ini akan dilakukan selama tiga tahun (2017-2019), pada tahun 2017 akan dibangun badan bagian tengah (mid body), sedangkan pada tahun 2018 dibangun bagian ujung depan dan belakang (edge body), tahun 2019 kapal selam ini sudah utuh dan akan mengalami pengujian berlayar dan menyelam untuk memperoleh sertifikasi kelaikan.

Pembuatan kapal selam ini merupakan kerja keroyokan dari Balitbang Kementerian Pertahanan bersama dengan Palindo Marine, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya dan Balai Teknologi Hidrodinamika-BPPT. Balitbang Kemhan merupakan pihak yang memprakarsai dan menyiapkan anggaran, Palindo Marine adalah galangan yang akan membuat kapal selam ini. ITS yang membuat detail desain dari konsep kapal selam 22m, UI yang membuat welding procedure dan melakukan tes, sedangkan BPPT yang akan menguji kapal selam ini.

Kapal dengan panjang 22m dan lebar 3m ini dirancang untuk sanggup menyelam hingga kedalaman 150m, kecepatan maksimal di air adalah 10 knot, baik ketika sedang menyelam atau di permukaan air. Kapal mempunyai endurance selama 6 hari, kapal dapat melaksanakan regenerasi udara selama 3 hari tanpa melakukan snorkeling. Berat total kapal saat menyelam adalah 127,1 ton, dilaporkan Defense-Studies.

Redaksi 11:54 AM
ilsutrasi
DHAJ-NEWS -- Atas revisi tersebut, pihak Polda Sulsel mengimbau warga Sulsel agar lebih berhati-hati lagi menggunakan media sosial (medsos). Imbauan itu disampaikan guna menghindari jeratan hukum yang tak diinginkan terjadi pada pengguna media sosial.

"Undang-undang itu telah direvisi, kami mengimbau warga Sulsel untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan medsos," ungkap Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Frans Barung Mangera, Minggu (27/11/2016).

UU nomor 11 Tahun 2008, menurut Barung, mengatur pengguna sosmed untuk lebih berhati-hati. Terdapat larangan untuk tidak membuat dan menyebarkan informasi yang bersifat tuduhan, fitnah, maupun SARA yang berujung kebencian.

Barung menyebutkan, dalam UU ITE itu, pengguna media sosial harus menggunakannya dengan tepat dan cerdas. Sebab, ada beberapa ancaman bagi pengguna sosmed yang sebarkan informasi atau berita bohong. (rakyatku.com)

Redaksi 11:49 AM
DHAJ-NEWS -- Artis pemain film layar lebar Nadine Chandrawinata akhirnya sukses menggapai puncak gunung tertinggi di Indonesia, Cartenz.

Nadine mengaku perasaanya campur aduk dan mengaku sangat bangga hingga tak kuasa menahan tangis.

Pasalnya Nadine menjadi salah satu wanita yang berhasil naik ke puncak Cartenz.

“Wow… Senangnya bukan main. Tapi pas di puncak aku jadi cengeng sih, karena aku nggak menyangka bakal ada di puncak,” ujarnya.

Nadine mengaku jika dirinya telah mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari.

“Jadi pada saat di Cartenz aku banyak sekali intropeksi diri,” paparnya.

Nadine menuturkan, untuk sampai ke puncak gunung, dirinya harus berhenti setiap 500 meter, karena rasa pusing yang muncul karena ketinggian sehingga ia harus sering-sering mengonsumsi bawang putih. (fajar.co.id)

Redaksi 11:41 AM
DHAJ-NEWS -- Nilai tukar mata uang Venezuela, Bolivar Venezuela, benar-benar anjlok. Satu bolivar bernilai kurang dari satu sen dolar. Kondisi tersebut membuat warga memilih menggunakan uang mereka sebagai pengganti serbet karena murah meriah dan tak muat di dompet

Dilansir dari businessinsider.com, setahun belakangan ini nilai tukar Bolivar Venezuela terus turun hingga 700 persen. Semula, 1 dolar amerika setara dengan 82 bolivar, namun kini setara dengan 676 bolivar, dilaporkan liputan6.com.

Situasi ini semakin mempersulit Venezuela yang mengandalkan produk impor. Mereka tak bisa mendapatkan kebutuhan primer seperti gula, tepung dan susu. Inflasi yang meningkat setiap tahun pun telah membuat beban utang pemerintah semakin menumpuk. Hal itulah yang membuat warga menjadikan uang kertas sebagai pengganti serbet untuk menyerap minyak gorengan.

Sebagai gambaran, jika dikonversi, 1 bolivar sama dengan 2.172 rupiah.

Redaksi 4:30 AM
DHAJ-NEWS -- Teheran dilaporkan bersedia mengizinkan Rusia menggunakan pangkalan udara di Hamadan, Iran, untuk kepentingan operasi udara Moskow melawan kelompok teroris di Suriah jika pihak Rusia memang membutuhkan bantuan tersebut, demikian disampaikan Menteri Pertahanan Iran Hossein Dehghan, Sabtu (26/11). Kemungkinan untuk Penyewaan juga terbuka.

Dehghan menyampaikan bahwa pemerintah Iran bisa mengizinkan Rusia menggunakan pangkalan udara di Hamadan jika hal tersebut memang dibutuhkan. "Jika situasi dan kondisi di Suriah membutuhkan dukungan, kami akan melakukannya," kata Dehghan, seperti dikutip oleh kantor berita Tamsin.

Sementara, Ketua Komite Pertahanan Majelis Tinggi Parlemen Rusia Viktor Ozerov menjelaskan bahwa Rusia diperbolehkan menggunakan pangkalan udara Iran jika kapal induk Laksamana Kuznetsov, yang digunakan untuk melancarkan serangan antiteror di Suriah, berangkat dari perbatasan Rusia untuk melakukan misi lain, dilaporkan rbth.com.

"Rusia bisa saja menggunakan pangkalan udara di Hamadan jika Laksamana Kuznetsov melakukan operasi lain dan tidak dapat melakukan serangan udara melawan kelompok teroris di Suriah," kata Ozerov RIA Novosti.

Redaksi 7:24 AM
Jajaran Reskrim Polres Musirawas, Sumatera Selatan, terus mengembangkan penyelidikan pelaku pengrusakan Mapolsek Bulang Tengah Suku Ulu, meskipun ada salah seorang pelaku yang dibebaskan pengadilan belum lama ini.

"Kami tetap mengembangkan penyelidikan untuk mencari pelaku pengrusakan Mapolsek Bulang Tengah Suku (BTS) Ulu yang terjadi November 2013, meskipun otak pelakunya terdakwa Bahtiar seorang pejabat Desa SP 4 Mangkurajo dibebaskan pengadilan belum lama ini," kata Kapolres Musirawas AKBP Chaidir, Sabtu.

Keseriusan itu terbukti setelah berhasil membekuk dua tersangka yaitu Sidik (26) dan Boni (40) di rumahnya masing-masing, Minggu (10/8) sekitar pukul 03.00 WIB dan tanpa perlawanan, sedangkan pelaku lainnya diperkirakan masih ada namun tidak berada di desa tersebut.

Dua terduga pelaku pengrusakan itu ditangkap di rumahnya ketika tengah beristirahat dan tidak menyangka kalau masih dalam pencairan polisi, modusnya tersangka bersama Rudi Hartono, Alex, Aan, Serial, Maulana, dan Deko (sudah divonis terbukti) merusak Mapolsek BTS Ulu dengan melempar kaca dan menghancurkan inventaris.

"Tersangka saat ini sudah diamankan di Mapolres Musi Rawas untuk penyidikan lebih lanjut, setelah diperiksa mengaku benar merusak Mapolsek BTS Ulu dengan cara melempar menggunakan batu kearah genteng dan kaca," ujarnya .

Berdasarkan pengakuan tersangka sebelum melakukan pengrusakan, dia diajak oleh oknum Kades terdakwa bebas datang ke rumahnya untuk demo ke Mapolsek dengan tujuan membebaskan salah seorang pelaku kriminal yang dibekuk polisi sebelumnya.

Kasat Reskrim Polres Musirawas AKP Teddy Ardian mengatakan, salah seorang tersangka Sidik mengaku sekitar pukul 18.00 pejabat kepala desa itu datang ke rumah, ia mintak tolong untuk berdemo di Mapolsek SP 9, tapi ajakan itu jangan dibilang pada siapa-siapa dan dirahasiakan.

"Karena saya menghuni salah satu rumah pejabat kepala desa itu, maka apa yang diperintahkannya dituruti dan tak tahu kalau melakukan pengrusakan," katanya.

Sedangkan pelaku Boni mengaku keberadaannya di lokasi demo itu untuk mengajak anaknya Alex pulang yang sebelumnya sudah ikut melakukan pengrusakan kantor Mapolsek tersebut, kalau dirinya tidak melakukan apa-apa tapi saat itu berada di lokasi, tandas Ardian menirukan ucapan tersangka.

Redaksi 7:01 AM
Kepolisian Sektor Pecut Sei Tuan, Sumatera Utara, mengamankan seorang pembeli sepeda motor hasil curian dan sejumlah barang bukti, saat hendak mengurus balik nama kepemilikan kendaraan tersebut.

Kepala Polsek Percut Sei Tuan Kompol Ronald Sipayung ketika dikonfirmasi dari Medan, Jumat, membenarkan penangkapan tersangka pembeli Honda Vario BK 6338 AAY yang barang curian tersebut.

Tersangka bernama Ysw (47), warga Jalan Sederhana, Kecamatan Medan Tembung yang membeli sepeda motor hasil curian milik korban, Muhartini Harahap (56), di Jalan Gurilla Medan.

Ia menjelaskan tersangka diamankan sewaktu akan mengurus biaya balik nama atas nama korban, pemilik sepeda motor curian tersebut, di Samsat Jalan Putri Hijau Medan, Jumat (22/8) siang.

"Saat ini, kita melakukan penyelidikan guna mengembangkan terhadap tersangka utamanya," kata Ronald.

Informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa peristiwa sepeda motor hilang tersebut dilaporkan ke Polsek Percut Sei Tuan, Jumat (1/8).

Setelah hampir satu bulan lamanya, sepeda motor yang hilang itu ditemukan di Samsat Jalan Putri Hijau Medan.

Korban dan keluarganya kehilangan sepeda motor saat mereka liburan dan menginap di Parapat, Kabupaten Simalungan.

Saat pulang ke rumah, Muhartini terkejut karena rumahnya terdapat tanda-tanda sudah dimasuki maling.

Akibat pencurian tersebut, Honda Vario BK 6338 AAY beserta STNK dan BPKB hilang dibawa kabur pelaku.

Selain itu, TV LCD dan emas 20 gram yang tersimpan di rumahnya, juga diambil pelaku. Pelaku yang diduga lebih dari dua orang saat aksinya merusak gembok dan kunci pintu rumah.

"Saya tadi dihubungi polisi Samsat Putri Hijau, 'kereta' yang hilang, berdasarkan laporan orang tua saya sudah ditemukan," ujar Azis, anak korban Muhartini. (antara)
Powered by Blogger.