Warganet Tiongkok sering memuji kedamaian dan pembangunan di wilayah mereka sebagai bukti keberhasilan stabilitas politik yang membawa pertumbuhan ekonomi besar. Narasi ini semakin kuat jika dibandingkan dengan negara seperti Suriah, yang bertahun‑tahun dilanda perang dan kesulitan pembangunan akibat konflik panjang. Namun, kritik media sosial tersebut jarang membandingkannya dengan negara lain yang juga mengalami konflik berkepanjangan seperti Myanmar, padahal situasinya sama kompleks dan destruktif.
Myanmar menjadi contoh nyata konflik internal yang rumit dan panjang, bukan hanya sejak kudeta militer 2021, tetapi sejak puluhan tahun sebelumnya. Negara yang terdiri dari lebih 130 etnis ini telah lama dilanda peperangan di berbagai daerah, terutama oleh kelompok bersenjata etnis yang menuntut otonomi atau kemerdekaan dari pemerintah pusat yang didominasi etnis Bamar. Konflik ini bukan fokus utama media Tiongkok karena narasinya berbeda dengan gambaran Suriah yang sering dipilih sebagai perbandingan dramatis.
Jumlah kelompok bersenjata di Myanmar jauh lebih banyak dibanding Suriah. Bahkan sebelum kudeta 2021, ada sekitar dua lusin kelompok bersenjata besar dan ratusan milisi kecil yang aktif di berbagai wilayah, terutama di negara bagian Shan, Kachin, dan Rakhine. Sejak konflik pro‑demokrasi setelah kudeta, muncul pula 250‑300 unit angkatan pertahanan rakyat (PDF) dengan total sekitar 65 ribu pejuang, memperluas kerumitan perang di berbagai front.
Wilayah‑wilayah yang diperebutkan juga tidak sedikit. Sekitar sepertiga dari wilayah negara terus dipengaruhi atau dikendalikan oleh kelompok bersenjata etnis yang memiliki struktur administratif dan militer sendiri, meski tidak diakui secara internasional. Beberapa kelompok bahkan membentuk aliansi yang kuat dan menguasai sejumlah kota, memaksa militer Myanmar melakukan strategi keras termasuk serangan udara dan pemboman—yang juga menimbulkan korban sipil besar.
Sementara Suriah sering dipandang sebagai contoh ekstrem perang berkepanjangan di Timur Tengah, konflik di Myanmar sebenarnya lebih kompleks dan terfragmentasi. Konflik Suriah cenderung antara pemerintah dengan kaklompok oposisi tertentu, sedangkan di Myanmar pertikaian terjadi di banyak front antara militer junta, kelompok etnis besar, milisi lokal PDF, dan kartel kriminal yang memperbesar konflik menjadi multi‑dimensi.
Kondisi ini berdampak serius terhadap pembangunan negara. Perekonomian Myanmar dan layanan publik hancur total di banyak daerah, infrastruktur rusak, serta jutaan orang menjadi pengungsi internal dan eksternal. Suriah memang menjadi simbol tragedi perang modern, tetapi kegagalan pembangunan yang dialami Myanmar sama parahnya, hanya saja dinamika konflik di sana kurang sering disorot di luar kawasan Asia.
Sementara itu, media Tiongkok cenderung memusatkan perhatian pada konflik yang memiliki implikasi geopolitik langsung bagi kawasan mereka, sehingga Suriah lebih sering dikaitkan dengan isu Timur Tengah secara global. Myanmar, meski merupakan krisis besar, sering dipandang sebagai urusan internal ASEAN yang bersifat lebih regional.
Perbandingan Suriah dan Myanmar juga menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya soal jumlah korban atau lama perang, tetapi juga bagaimana konflik itu terfragmentasi, siapa yang terlibat, dan bagaimana penyelesaian politik berlangsung. Suriah mengalami perang dengan berbagai kekuatan eksternal, sedangkan Myanmar lebih banyak konflik etnis internal yang tetap tidak terselesaikan sejak kemerdekaan dari kolonialisme.
Meski demikian, membandingkan kondisi Suriah dengan konflik Myanmar dapat memberikan perspektif yang lebih luas tentang bagaimana perang memengaruhi pembangunan nasional. Di kedua negara, pembangunan ekonomi, infrastruktur, dan layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan tersendat atau hancur akibat kekerasan yang tak berkesudahan.
Kesimpulannya, kritik warganet yang membandingkan Suriah dengan Tiongkok mencerminkan sudut pandang tertentu yang dipengaruhi oleh narasi media dan politik domestik. Namun jika objektif melihat panorama konflik di Asia dan dunia, Myanmar layak disebut setara, bahkan dalam beberapa aspek lebih kompleks, dibanding Suriah, sehingga perbandingan terhadap Myanmar juga sangat relevan apabila tujuan diskusinya adalah memahami dampak perang terhadap pembangunan.
Post a Comment