Perkembangan cepat terjadi di Suriah utara dan timur laut seiring bergeraknya sejumlah aktor militer dan ekonomi dalam satu momentum yang dinilai menentukan. Situasi di lapangan menunjukkan keterkaitan erat antara operasi militer, dinamika keamanan, dan agenda pemulihan ekonomi nasional.

Pasukan Sanadid Shammar dilaporkan mulai melakukan pergerakan terkoordinasi dengan pemerintah Suriah. Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam peta aliansi lokal, terutama di wilayah Jazirah yang selama ini menjadi arena tarik-menarik pengaruh.

Di saat yang sama, laporan mengenai terjadinya perpecahan di dalam barisan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) mulai mencuat, khususnya di garis pertahanan selatan Hasakah. Retakan internal ini disebut memengaruhi kesiapan tempur dan stabilitas kendali wilayah.

Tekanan militer kian meningkat dengan bergeraknya pasukan tentara Suriah dari arah wilayah Operasi Naba’ al-Salam. Pasukan ini dilaporkan hampir bertemu dengan unit-unit tentara Suriah yang datang dari arah Shaddadi, membentuk kepungan strategis di wilayah selatan Hasakah.

Pertemuan dua poros pasukan tersebut dipandang sebagai langkah krusial untuk mengamankan jalur-jalur utama dan mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata yang masih bertahan di kawasan itu.

Di front lain, pertempuran sengit dilaporkan terjadi di wilayah Sarrin. Bentrokan ini dikaitkan dengan upaya merebut kembali Ain al-Arab atau Kobane, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol penting dalam konflik Suriah utara.

Sementara dinamika militer terus bergerak, pemerintah Suriah juga mengirimkan sinyal kuat di bidang ekonomi dan energi. Direktur Utama Perusahaan Minyak Suriah, Yusuf Qiblawi, menyampaikan pernyataan penting dalam sebuah konferensi pers di Damaskus.

Qiblawi mengungkapkan bahwa ladang minyak al-Omar di Deir ez-Zor memiliki sekitar 900 sumur minyak. Ladang strategis ini diproyeksikan menjadi tulang punggung kebangkitan sektor energi nasional.

Menurutnya, perusahaan berencana untuk kembali mengekspor minyak mentah dalam waktu mendatang. Rencana ini menjadi bagian dari fase baru penguatan produksi minyak Suriah.

Sebelum perang, ladang al-Omar tercatat memproduksi sekitar 50 ribu barel per hari. Namun saat ini, produksi aktual tidak lebih dari 5 ribu barel per hari akibat kerusakan infrastruktur dan kendala keamanan.

Qiblawi menegaskan bahwa peningkatan produksi menjadi prioritas utama, seiring dengan upaya pemerintah memulihkan kendali atas sumber daya energi nasional.

Menariknya, ia juga menyebut adanya ketertarikan dari perusahaan-perusahaan Amerika Serikat untuk berinvestasi di sektor gas, khususnya di wilayah Hasakah. Pernyataan ini mengindikasikan terbukanya kembali kanal komunikasi ekonomi lintas negara.

Di tengah ketegangan militer dan agenda energi, langkah kemanusiaan turut dilakukan di Provinsi Aleppo. Sekitar seratus keluarga mulai dipulangkan dari kamp Azadi dan Ashti menuju kota Afrin.

Proses pemulangan ini dilaksanakan oleh Komite Pusat Tanggap Aleppo sebagai respons atas memburuknya kondisi kehidupan di dalam dua kamp tersebut.

Anggota komite, Farhad Khorto, menjelaskan bahwa operasi ini melibatkan penyediaan lima belas bus untuk mengangkut para keluarga secara aman dan tertib.

Pemulangan dilakukan di bawah pengawasan langsung komite, dengan koordinasi bersama Direktorat Tanggap Darurat dan Penanggulangan Bencana, serta otoritas lokal Afrin.

Dari pihak pemerintah provinsi, anggota eksekutif Aleppo, Iman Hashem, menyatakan bahwa kondisi di dalam kamp telah mencapai tingkat yang sangat memprihatinkan akibat kekurangan layanan dasar.

Ia menegaskan bahwa perempuan, anak-anak, dan lansia menjadi kelompok yang paling terdampak, sehingga keberlanjutan hidup di kamp tidak lagi memungkinkan.

Menurut Hashem, kembalinya keluarga-keluarga tersebut ke Afrin dan sekitarnya diharapkan dapat menyatukan kembali keluarga yang tercerai-berai serta membantu mereka membangun kembali kehidupan yang lebih stabil.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa Suriah tengah memasuki fase baru, di mana operasi militer, pemulihan ekonomi, dan langkah kemanusiaan berjalan secara paralel.

Arah perkembangan ini dinilai akan sangat menentukan wajah Suriah ke depan, baik dari sisi kedaulatan wilayah, penguasaan sumber daya, maupun nasib jutaan warga sipil yang terdampak perang panjang.

Post a Comment

Powered by Blogger.