Kedatangan musafir besar asal Maroko, Ibn Battuta, ke Kepulauan Maladewa pada 1344 Masehi menjadi salah satu catatan paling berharga tentang jaringan dunia Islam di Samudra Hindia pada abad ke-14. Dalam perjalanan panjangnya dari Afrika Utara hingga Asia Selatan, Maladewa muncul sebagai simpul penting yang menghubungkan Arabia, Afrika Timur, dan India.
Ibn Battuta tiba di Maladewa setelah melewati masa sulit, termasuk kehilangan harta benda berharga yang pernah ia peroleh dari berbagai kerajaan. Catatan perjalanannya menggambarkan bagaimana ia kembali meneguhkan tekad spiritual sebelum memutuskan berlayar menuju kepulauan kecil di tengah samudra tersebut.
Dalam naskah perjalanannya, Ibn Battuta menyebutkan bahwa ia mendarat di sebuah pulau yang ia sebut Cannaloús, salah satu pulau di Maladewa. Pulau ini menjadi pintu masuknya ke struktur pemerintahan lokal yang saat itu telah sepenuhnya berlandaskan Islam.
Di pulau tersebut, Ibn Battuta disambut oleh seorang gubernur bernama Abd al-Azīz al-Maqdishāwī. Sosok ini digambarkan sebagai pejabat yang ramah, terpelajar, dan memiliki otoritas penuh atas wilayah yang ia pimpin.
Yang menarik perhatian para sejarawan modern adalah nisba atau asal-usul Abd al-Azīz al-Maqdishāwī. Sumber-sumber menyebutkan bahwa nisba tersebut dapat ditelusuri ke Mogadishu, kota pelabuhan besar di pesisir Somalia saat ini.
Mogadishu pada abad ke-14 dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan keilmuan Islam di Afrika Timur. Kota ini memiliki hubungan dagang yang erat dengan Arabia, Persia, India, dan kepulauan di Samudra Hindia, termasuk Maladewa.
Fakta bahwa seorang pejabat tinggi Maladewa berasal dari Mogadishu menunjukkan betapa cairnya mobilitas elite Muslim pada masa itu. Jabatan pemerintahan tidak semata ditentukan oleh asal lokal, melainkan oleh jaringan keilmuan, kepercayaan, dan reputasi religius.
Ibn Battuta mencatat bahwa Abd al-Azīz al-Maqdishāwī adalah penutur asli bahasa Arab. Hal ini menegaskan posisi bahasa Arab sebagai lingua franca pemerintahan dan agama di Maladewa, meskipun masyarakat setempat memiliki bahasa dan budaya sendiri.
Penggunaan bahasa Arab dalam administrasi menunjukkan bahwa Maladewa telah terintegrasi secara mendalam ke dalam dunia Islam internasional. Pulau-pulau kecil itu bukanlah wilayah terpencil, melainkan bagian aktif dari jaringan maritim global.
Dalam catatan Ibn Battuta, sang gubernur memperlakukan tamunya dengan penuh hormat dan menyediakan sarana transportasi laut untuk melanjutkan perjalanan. Sikap ini mencerminkan etos keramahan dan solidaritas sesama Muslim yang kuat pada masa itu.
Kehadiran pejabat asal Mogadishu juga mengindikasikan peran penting Afrika Timur dalam penyebaran Islam ke Asia Selatan dan kepulauan sekitarnya. Ulama, pedagang, dan administrator dari kawasan tersebut kerap berperan sebagai perantara budaya dan politik.
Maladewa sendiri pada abad ke-14 diperintah oleh seorang ratu, dengan struktur pemerintahan yang unik namun tetap berada dalam kerangka hukum Islam. Ibn Battuta bahkan sempat terlibat langsung dalam kehidupan politik dan hukum di kepulauan itu.
Catatan tentang Abd al-Azīz al-Maqdishāwī memperkaya pemahaman tentang komposisi elite Maladewa yang multietnis. Arab, Afrika Timur, Persia, dan Asia Selatan bertemu dalam satu ruang politik yang sama.
Fenomena ini menantang pandangan modern yang sering melihat negara-negara kepulauan sebagai entitas tertutup. Pada abad pertengahan, justru laut menjadi penghubung utama yang mempercepat pertukaran manusia dan gagasan.
Ibn Battuta menulis pengalamannya dengan gaya personal, mencampurkan refleksi religius dengan laporan faktual. Dari situlah diketahui bahwa keputusannya kembali ke Maladewa dilandasi rasa aman dan keyakinan spiritual.
Penyebutan Mogadishu dalam konteks Maladewa juga menegaskan reputasi kota tersebut sebagai pusat diaspora Muslim. Orang-orang Mogadishu tidak hanya berdagang, tetapi juga memegang jabatan strategis di negeri-negeri jauh.
Bagi sejarah Somalia, sosok Abd al-Azīz al-Maqdishāwī menjadi bukti konkret peran aktif Afrika Timur dalam sejarah Islam global. Ia bukan figur pinggiran, melainkan aktor pemerintahan di wilayah asing.
Sementara bagi Maladewa, kisah ini menunjukkan bahwa pembentukan negara dan birokrasi Islamnya melibatkan kontribusi lintas kawasan. Identitas kepulauan itu sejak awal bersifat kosmopolitan.
Catatan Ibn Battuta terus menjadi rujukan utama untuk memahami dinamika tersebut. Melalui satu pertemuan singkat dengan seorang gubernur, terbuka gambaran luas tentang dunia Islam abad ke-14 yang saling terhubung.
Jejak Mogadishu di Maladewa pada 1344 M bukan sekadar detail perjalanan, melainkan potret nyata jaringan manusia, bahasa, dan kekuasaan yang melintasi samudra jauh sebelum era modern.
Post a Comment