Pemerintah Suriah dilaporkan mengajukan tawaran politik yang tidak biasa kepada panglima SDF, Mazloum Abdi, berupa posisi Gubernur Hasakah. Informasi yang bersumber dari kanal diplomatik ini segera memicu spekulasi luas di kawasan utara Suriah, terutama terkait hubungannya dengan eskalasi militer di Raqqa dan Tabqa.
Tawaran tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan militer pasukan Damaskus dan sekutunya di wilayah barat Sungai Eufrat. Banyak pengamat menilai langkah ini bukan sekadar kompromi administratif, melainkan bagian dari strategi untuk mencegah pertempuran besar di Raqqa yang berpotensi menghancurkan kota.
Raqqa memiliki nilai simbolik dan strategis yang tinggi. Perang besar di Raqqa akan membawa dampak kemanusiaan dan politik yang berat, baik bagi Damaskus maupun aktor internasional.
Dalam konteks ini, tawaran jabatan Gubernur Hasakah dipahami sebagai “jalan keluar terhormat” bagi Mazloum Abdi. Dengan menerima posisi tersebut, SDF diharapkan bersedia menarik diri dari Raqqa tanpa perlawanan besar, sekaligus membuka jalan bagi kembalinya otoritas negara secara bertahap.
Pertanyaannya kemudian, apakah ini murni upaya menghindari perang, atau justru pertukaran kekuasaan yang bersifat transaksional. Banyak analis menilai Damaskus sedang mencoba memecah kepemimpinan SDF dari dalam, dengan menawarkan integrasi personal alih-alih konfrontasi militer langsung.
Hasakah sendiri bukan wilayah sembarangan. Provinsi ini merupakan jantung Jazira Suriah, kaya minyak dan pertanian, serta menjadi basis administratif terpenting SDF. Jabatan gubernur di Hasakah berarti kendali politik atas wilayah yang selama satu dekade berada di luar kendali penuh Damaskus.
Namun, muncul pertanyaan besar mengapa tawaran ini tidak diajukan lebih awal, sebelum pasukan Damaskus bergerak ke Tabqa. Jika tujuan utamanya adalah menghindari perang, logika diplomasi menyarankan pendekatan politik sejak awal.
Sejumlah sumber menilai keterlambatan ini disengaja. Damaskus diduga ingin terlebih dahulu mengubah keseimbangan kekuatan di lapangan. Dengan jatuhnya Tabqa dan bandara militernya, posisi tawar SDF melemah drastis, sehingga tawaran politik kini datang dari posisi dominan.
Dalam politik konflik Suriah, konsesi jarang diberikan tanpa tekanan militer. Tawaran jabatan gubernur setelah penguasaan Tabqa menunjukkan bahwa Damaskus ingin memastikan SDF tidak lagi memiliki ruang manuver besar untuk menawar balik.
Karena itu, tawaran ini dapat dibaca sebagai upaya memisahkan Raqqa dari Hasakah dalam kalkulasi SDF. Raqqa dilepaskan demi mempertahankan pengaruh politik di Hasakah melalui figur Mazloum Abdi.
Namun, langkah ini juga sarat risiko bagi Damaskus. Mengangkat tokoh sentral SDF sebagai gubernur berpotensi memicu resistensi internal, baik dari aparat lama negara maupun dari sebagian kelompok suku Arab yang anti-SDF.
Pemerintah Suriah tampaknya menghitung bahwa stabilitas jangka pendek lebih penting dibandingkan konsistensi ideologis. Menghindari perang di Raqqa berarti menghindari kehancuran infrastruktur dan kemarahan publik yang bisa merusak legitimasi pemerintahan transisi.
Bagi Mazloum Abdi, tawaran ini adalah dilema besar. Menerimanya berarti mengakhiri proyek otonomi bersenjata SDF secara de facto. Menolaknya berarti menghadapi tekanan militer yang kian meningkat tanpa jaminan dukungan internasional seperti sebelumnya.
Faktor Amerika Serikat juga menjadi variabel penting. Dengan berkurangnya keterlibatan langsung Washington, ruang gerak SDF semakin menyempit. Hal ini membuat tawaran Damaskus, meski datang terlambat, kini menjadi lebih relevan.
Keterlambatan tawaran sebelum Tabqa juga bisa dibaca sebagai pesan politik. Damaskus ingin menunjukkan bahwa integrasi hanya ditawarkan setelah pengakuan terhadap superioritas negara di medan perang.
Raqqa dalam skenario ini bukan sekadar kota, melainkan alat tawar. Dengan ancaman operasi militer penuh, Damaskus mendorong penyelesaian politik yang lebih menguntungkan tanpa harus menembakkan banyak peluru.
Jika kesepakatan ini benar-benar terjadi, peta kekuasaan di timur laut Suriah akan berubah drastis. Integrasi personal Mazloum Abdi ke dalam struktur negara bisa menjadi preseden bagi pembubaran bertahap struktur SDF.
Namun, jika negosiasi gagal, Raqqa tetap berisiko menjadi medan pertempuran besar berikutnya. Tawaran gubernur Hasakah bisa berubah dari jembatan damai menjadi catatan terakhir sebelum eskalasi penuh.
Dengan demikian, tawaran ini tidak berdiri sendiri. Ia lahir dari kombinasi tekanan militer, kelelahan konflik, dan pergeseran dukungan internasional, yang semuanya bertemu di satu titik krusial bernama Raqqa.
Perkembangan terakhir
Milisi SDF dilaporkan mulai mengosongkan brankas sejumlah institusi vital di Kota Raqqa, termasuk sebuah lembaga keuangan pemerintah daerah. Informasi dari sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa gedung keuangan Raqqa telah dikosongkan dalam beberapa jam terakhir, memicu spekulasi luas tentang persiapan penarikan diri dari kota tersebut.
Langkah ini dinilai sebagai indikator kuat bahwa SDF tengah mengantisipasi perubahan besar dalam kendali administratif Raqqa. Pengosongan lembaga keuangan kerap menjadi prosedur awal sebelum penyerahan wilayah, terutama untuk mencegah aset dan dokumen penting jatuh ke tangan pihak lawan dalam situasi transisi kekuasaan.
Sejumlah pengamat mengaitkan perkembangan ini dengan tawaran Damaskus kepada Mazloum Abdi untuk menduduki jabatan Gubernur Hasakah. Jika tawaran tersebut diterima, Raqqa diperkirakan akan dilepas tanpa perlawanan bersenjata, sebagai bagian dari kesepakatan politik yang lebih luas antara SDF dan pemerintah pusat.
Raqqa sendiri memiliki nilai strategis dan simbolik yang tinggi, sehingga penarikan SDF dari kota ini akan menjadi sinyal kuat berakhirnya fase konfrontasi terbuka di wilayah barat Sungai Eufrat. Pengosongan gedung keuangan dinilai sebagai langkah teknis yang mendahului penataan ulang otoritas sipil dan keamanan.
Meski belum ada pernyataan resmi dari SDF, dinamika di lapangan menunjukkan arah yang semakin jelas. Jika kesepakatan politik benar-benar tercapai, Raqqa berpotensi menjadi contoh transisi kekuasaan tanpa perang, dengan kendali kota berpindah melalui negosiasi, bukan melalui pertempuran.
Post a Comment