Konflik bersenjata di timur laut India menjadi perhatian internasional karena melibatkan sejumlah kelompok etnis dan militan, termasuk Naga, Meitei, dan Kuki. Wilayah ini selalu rentan terhadap kekerasan akibat sejarah panjang ketegangan etnis dan tuntutan otonomi yang belum terselesaikan.
Baru-baru ini, NSCN-IM menuduh India mendukung Kuki National Army-Burma (KNA-B) dan kelompok People’s Defense Force (PDF) dalam konflik melawan Naga dan Meitei yang berbasis di Tamu, Myanmar. Tuduhan ini menunjukkan adanya strategi India yang kompleks, menggunakan kelompok pihak ketiga untuk mengontrol dinamika perbatasan.
India menghadapi dilema besar di wilayah timur lautnya. Beberapa kelompok bersenjata, seperti NSCN-IM, telah menandatangani gencatan senjata dengan pemerintah India selama puluhan tahun, tetapi masih menimbulkan ketegangan karena basis operasional mereka berada di dekat perbatasan Myanmar.
Menurut NSCN-IM, India ingin mencegah kelompok Naga dan Meitei menggunakan wilayah Myanmar sebagai tempat aman untuk memperkuat operasi lintas batas. Hal ini dianggap mengancam stabilitas internal di Nagaland, Manipur, dan negara bagian timur laut lainnya.
Strategi India tampak menggunakan proxy war, yaitu mengerahkan kelompok Kuki sebagai ujung tombak untuk menghadapi Naga dan Meitei di wilayah perbatasan. Dengan cara ini, India bisa menekan kelompok bersenjata tanpa terlibat langsung dalam pertempuran, sehingga meminimalkan risiko politik dan internasional.
Kuki militant groups, yang aktif di Tengnoupal District, Manipur, mendapat izin untuk masuk ke Myanmar dan beroperasi di wilayah Tamu bersama PDF. Mereka bertindak sebagai agen proksi untuk menekan Meitei dan Naga, sekaligus menjaga kepentingan keamanan India.
Konflik ini memperlihatkan bagaimana rivalitas etnis di Myanmar dimanfaatkan oleh India untuk kepentingan strategisnya. Ketegangan antara Kuki dan Naga di perbatasan menciptakan peluang bagi pemerintah India untuk mengatur aliansi dan meminimalkan ancaman terhadap wilayahnya sendiri.
NSCN-IM menilai bahwa meski gencatan senjata sudah berjalan 27 tahun, operasi India melalui kelompok proksi tetap menargetkan Naga. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pemerintah India lebih pragmatis, mempertimbangkan keamanan perbatasan daripada hubungan jangka panjang dengan kelompok bersenjata.
Di sisi lain, KNA-B dan PDF menegaskan bahwa mereka hanya fokus pada konflik internal Myanmar dan menolak tuduhan mendukung India. Namun fakta lapangan menunjukkan koordinasi yang erat antara kelompok Kuki dan aparat keamanan India di sepanjang perbatasan.
India menggunakan pendekatan ini untuk mengontrol perbatasan yang panjang dan sulit dijaga, terutama di wilayah pegunungan dan hutan lebat di Manipur dan Nagaland. Strategi proksi memungkinkan India tetap memantau dan mempengaruhi dinamika militer tanpa mengirim pasukan besar secara langsung.
Selain itu, konflik ini juga menunjukkan kompleksitas hubungan etnis di timur laut India. Meitei mayoritas di dataran rendah Manipur, sementara Kuki menguasai dataran tinggi. Perbedaan wilayah ini sering menjadi akar ketegangan, yang dimanfaatkan India untuk strategi keamanan.
Di Myanmar bagian utara, konflik Naga-Kuki-Meitei semakin rumit karena melibatkan kelompok bersenjata lain, seperti Kachin Independence Army (KIA) dan Chin National Front (CNF). Keberadaan banyak aktor ini menciptakan medan tempur yang sulit diprediksi.
India menilai bahwa jika Naga atau Meitei membangun basis di Myanmar, mereka dapat mengorganisir serangan lintas batas terhadap India. Oleh karena itu, strategi proksi menjadi cara efektif untuk menekan kelompok bersenjata tanpa konfrontasi langsung di tanah India.
Pendekatan ini juga memanfaatkan pengalaman sejarah. Selama puluhan tahun, pemerintah India berhasil menjaga gencatan senjata dengan NSCN-IM dan kelompok lain, tetapi tetap menghadapi ancaman sporadis. Menggunakan Kuki sebagai proksi membantu menekan potensi kekerasan.
Konflik ini menekankan pentingnya pengaruh eksternal dan aliansi lokal. Kelompok Kuki mendapatkan dukungan logistik dan koordinasi dari aparat India, sementara Naga dan Meitei tetap terisolasi dalam wilayah pegunungan Myanmar.
Situasi ini juga menimbulkan dilema politik. Di satu sisi, India ingin menjaga perdamaian internal dengan kelompok Naga, namun di sisi lain, keamanan perbatasan menuntut langkah tegas untuk mencegah serangan lintas batas.
Operasi proksi ini dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak gencatan senjata yang sudah berlangsung puluhan tahun. Pemerintah India tetap berhati-hati agar konflik tidak melebar dan memicu ketidakstabilan di wilayah timur laut.
Di sisi lain, tuduhan NSCN-IM terhadap India menunjukkan bagaimana propaganda dan persepsi dapat digunakan dalam konflik etnis. Tuduhan ini menyoroti ketegangan antara klaim keamanan nasional dan kepercayaan komunitas lokal.
Dinamika ini juga menekankan bahwa konflik bersenjata di timur laut India tidak bisa dipisahkan dari kondisi di Myanmar. Koneksi lintas batas, kelompok etnis, dan sejarah migrasi menjadi faktor penting yang menentukan strategi keamanan India.
Akhirnya, strategi India dalam mendukung kelompok proksi di Myanmar menunjukkan realpolitik yang pragmatis. Pemerintah mengutamakan stabilitas internal, pengendalian perbatasan, dan penekanan terhadap kelompok bersenjata yang mengancam, sambil tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Myanmar dan komunitas etnis setempat.
Post a Comment