Konflik antar kelompok etnis telah menjadi fenomena lama di banyak negara, termasuk di Asia Tenggara. Di Myanmar, negara ini menghadapi puluhan hingga ratusan kelompok bersenjata etnis yang berperang memperebutkan wilayah dan otonomi. Sementara itu, di Indonesia, wilayah Papua juga memiliki sejarah perang suku, meski skalanya lebih kecil dan bersifat tradisional.
Perang suku di Papua sering dipicu oleh perselisihan tanah, sengketa ekonomi, dan pertikaian adat. Meskipun intensitasnya tidak seperti perang bersenjata besar, dampak sosial tetap signifikan bagi komunitas lokal. Pertempuran ini biasanya melibatkan kelompok kecil yang saling menyerang menggunakan senjata tradisional, panah, dan kadang senjata modern sederhana.
Di Papua, jumlah kelompok suku yang pernah terlibat konflik sulit dihitung secara pasti, namun diperkirakan ada puluhan kelompok suku aktif, dengan beberapa wilayah seperti Puncak, Pegunungan Bintang, dan Yahukimo menjadi hotspot konflik. Pemerintah Indonesia sering menurunkan aparat kepolisian atau TNI untuk mengawasi dan mencegah eskalasi konflik.
Sebaliknya, Myanmar memiliki lebih dari 30 kelompok bersenjata etnis utama, termasuk Kachin, Shan, Karen, dan Rakhine, yang mengelola wilayah sendiri dengan struktur militer dan administratif de facto. Konflik di Myanmar sering berlangsung dalam skala besar, melibatkan ribuan tentara dan senjata berat, serta memicu jutaan pengungsi internal.
Skala konflik ini membuat Myanmar menjadi contoh perang etnis yang kompleks. Setiap kelompok bersenjata etnis memiliki tuntutan berbeda, mulai dari otonomi lokal hingga kemerdekaan penuh, sehingga negosiasi politik menjadi sulit. Papua, meski konfliknya lebih kecil, menunjukkan dinamika serupa dalam hal perebutan sumber daya dan wilayah.
Tradisi perang suku di Papua berbeda dengan Myanmar karena bersifat lebih ritualistik dan mengikuti aturan adat tertentu. Dalam beberapa kasus, konflik bisa berhenti jika ada negosiasi adat atau upacara perdamaian. Sementara itu, konflik di Myanmar hampir selalu disertai kekerasan bersenjata modern dan intervensi militer.
Meski demikian, akar masalah konflik di kedua wilayah terkadang mirip. Persoalan akses tanah, ekonomi, dan marginalisasi kelompok tertentu menjadi pemicu utama. Di Papua, perselisihan bisa terjadi antar suku tetangga, sedangkan di Myanmar, perselisihan bisa terjadi antara etnis minoritas dengan pemerintah pusat.
Dampak konflik di Papua cenderung terbatas pada desa atau distrik tertentu, sedangkan di Myanmar, perang etnis dapat memengaruhi seluruh negara bagian. Konflik Myanmar telah menimbulkan krisis pengungsi, kerusakan infrastruktur, dan gangguan ekonomi yang lebih luas.
Dalam hal jumlah, konflik suku di Papua lebih kecil. Sekitar 30–40 kelompok suku yang sering terlibat bentrokan dibandingkan dengan 30-an kelompok bersenjata etnis besar di Myanmar yang masing-masing memiliki ribuan anggota. Skala jumlah anggota yang terlibat sangat berbeda.
Pemerintah Indonesia menekankan pendekatan preventif dan hukum adat untuk mengendalikan perang suku, sementara Myanmar menggunakan intervensi militer besar dan perjanjian damai yang tidak selalu konsisten. Strategi ini menunjukkan perbedaan kapasitas negara dalam mengelola konflik internal.
Konflik suku di Papua kadang melibatkan pihak kepolisian sebagai mediator. Hal ini berbeda dengan Myanmar, di mana pihak ketiga internasional atau ASEAN jarang berhasil menjadi mediator efektif karena kompleksitas konflik dan jumlah aktor yang terlibat.
Dalam beberapa tahun terakhir, laporan menyebut konflik suku di Papua cenderung meningkat akibat persaingan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan migrasi penduduk. Hal ini memperburuk ketegangan antar suku, meski masih dalam skala lokal.
Myanmar menghadapi tekanan internasional lebih besar karena konflik etnis memicu pelanggaran HAM, pengungsian massal, dan perhatian media global. Papua, walaupun memiliki konflik serius, jarang menjadi sorotan internasional karena skala dan intensitasnya lebih rendah.
Kedua wilayah menunjukkan bagaimana ketimpangan ekonomi dan marginalisasi etnis menjadi pemicu utama konflik. Di Papua, pembangunan yang tidak merata menjadi penyebab bentrokan suku. Di Myanmar, dominasi etnis Bamar dan marginalisasi etnis minoritas memperburuk konflik.
Perbedaan lain terlihat pada struktur organisasi kelompok. Kelompok bersenjata di Myanmar memiliki komando militer terpusat, logistik, dan strategi perang modern, sementara perang suku di Papua lebih longgar, tradisional, dan bersifat komunitas lokal.
Namun, dampak psikologis bagi masyarakat lokal tidak kalah berat. Korban tewas, kehilangan harta, dan trauma akibat konflik terjadi di kedua wilayah, meskipun skalanya berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa konflik etnis kecil pun tetap menimbulkan kerugian serius.
Dalam hal durasi, konflik di Myanmar telah berlangsung puluhan tahun, sedangkan perang suku di Papua biasanya episodik, muncul dan mereda tergantung kondisi lokal. Meski demikian, pola perseteruan lama tetap ada di beberapa wilayah pegunungan.
Pemerintah Indonesia mencoba menekan konflik suku dengan program pembangunan, dialog adat, dan operasi keamanan terbatas, sedangkan Myanmar masih menghadapi kesulitan menyelesaikan konflik etnis yang luas karena jumlah aktor dan wilayah yang terlibat sangat besar.
Analisis ini menunjukkan bahwa meskipun skala konflik berbeda, akar masalah yang memicu perang etnis di Papua dan Myanmar memiliki kesamaan, yaitu perebutan tanah, ekonomi, dan identitas etnis.
Kesimpulannya, perang suku di Papua lebih kecil dan terkontrol dibanding konflik etnis di Myanmar. Namun, kedua wilayah menjadi contoh bagaimana ketegangan etnis dan sosial bisa berkembang menjadi konflik bersenjata, baik tradisional maupun modern.
Post a Comment