Perkembangan situasi keamanan di Suriah timur laut kembali mengalami perubahan signifikan setelah laporan lapangan menyebutkan bahwa pasukan suku Arab telah menguasai seluruh wilayah pedesaan selatan Hasakah. Peristiwa ini menandai babak baru dalam dinamika kekuasaan di kawasan Jazira yang selama bertahun-tahun berada di bawah pengaruh Pasukan Demokratik Suriah atau SDF.

Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa penguasaan tersebut mencakup rangkaian desa dan kawasan strategis yang membentang dari Abu Fase hingga Qana. Wilayah-wilayah ini sebelumnya menjadi jalur vital penghubung antara Hasakah, Deir ez-Zor, dan Raqqa, sehingga perubahan kendali di sana memiliki dampak lebih luas dari sekadar skala lokal.

Desa Abu Fase dan kawasan yang dikenal sebagai “47” dilaporkan menjadi titik awal pergeseran kekuasaan, sebelum meluas ke Ajaja, Abdan, dan Markada. Dalam waktu singkat, pasukan suku berhasil memperluas pengaruhnya tanpa perlawanan berarti dari SDF.

Menyusul itu, desa Fadghami, Atala, dan Haddadiya juga masuk dalam kendali kelompok suku. Sumber lapangan menekankan bahwa penarikan pasukan SDF berlangsung secara menyeluruh dan terkoordinasi, bukan sporadis atau akibat bentrokan besar.

Tel Ahmar, Taraqiya, dan Al-Arisha termasuk di antara wilayah yang memiliki nilai simbolik dan strategis, karena berada di jalur pertanian dan logistik penting. Penguasaan kawasan ini memperkuat posisi suku Arab dalam mengendalikan ruang hidup pedesaan selatan Hasakah.

Qana, sebagai salah satu titik terakhir yang dilaporkan dikuasai, menandai rampungnya kontrol suku atas seluruh sabuk selatan provinsi tersebut. Dengan itu, peta kendali di Hasakah mengalami perubahan mencolok untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir.

Para pengamat menilai perkembangan ini mencerminkan meluasnya gerakan suku yang sebelumnya terpusat di Deir ez-Zor. Kini, arus tersebut bergerak ke utara dan menekan struktur kendali SDF di Jazira secara lebih sistematis.

Kehadiran dan dukungan masyarakat lokal menjadi faktor kunci dalam cepatnya perubahan situasi. Di banyak desa, warga disebut membuka jalan bagi pasukan suku, yang dipandang sebagai representasi sosial dan kekerabatan yang lebih dekat dibanding struktur militer SDF.

Di sisi lain, penarikan penuh SDF dari kawasan-kawasan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang strategi jangka panjang mereka. Hingga kini belum ada pernyataan resmi yang menjelaskan apakah langkah itu bersifat taktis, sementara, atau bagian dari kesepakatan yang lebih luas.

Perubahan di selatan Hasakah juga dipandang sebagai indikator melemahnya cengkeraman administratif SDF di wilayah pedesaan Arab. Selama ini, ketegangan antara otoritas SDF dan komunitas suku terus mengendap akibat isu sumber daya, keamanan, dan representasi politik.

Dengan kendali suku yang kian meluas, diskursus mengenai masa depan tata kelola Jazira kembali mengemuka. Banyak pihak memprediksi akan muncul format baru pengaturan keamanan yang melibatkan aktor-aktor lokal secara lebih dominan.

Beberapa tokoh suku menyatakan bahwa prioritas mereka adalah stabilitas dan pengakhiran ketegangan bersenjata. Mereka menekankan perlunya pengelolaan wilayah yang selaras dengan struktur sosial setempat.

Namun, tantangan besar masih menanti, terutama terkait administrasi sipil, layanan publik, dan keamanan jangka panjang. Penguasaan wilayah tanpa kerangka pemerintahan yang jelas berpotensi memunculkan kekosongan otoritas.

Pemerintah Suriah di Damaskus diperkirakan mencermati perkembangan ini dengan saksama. Bagi Damaskus, meluasnya kendali suku di selatan Hasakah bisa menjadi pintu masuk bagi penguatan kembali pengaruh negara di kawasan timur laut.

Di tingkat regional, perubahan ini juga menarik perhatian aktor eksternal yang selama ini terlibat di Suriah timur. Jalur selatan Hasakah memiliki arti strategis dalam konteks pergerakan pasukan, ekonomi, dan keamanan lintas wilayah.

Sejumlah analis menilai bahwa apa yang terjadi bukan sekadar insiden lokal, melainkan bagian dari pergeseran keseimbangan kekuatan yang lebih luas. Jazira, yang lama dianggap relatif stabil, kini memasuki fase transisi yang tidak pasti.

Situasi di lapangan masih cair dan berpotensi berubah cepat. Meski tidak dilaporkan bentrokan besar, ketegangan laten tetap ada, terutama jika muncul upaya untuk merebut kembali wilayah yang telah ditinggalkan.

Bagi warga sipil, harapan terbesar adalah terciptanya keamanan yang berkelanjutan dan berkurangnya tekanan militer. Banyak keluarga di pedesaan selatan Hasakah telah lama terdampak konflik dan menginginkan kepastian hidup.

Penguasaan penuh suku atas wilayah tersebut menjadi sinyal kuat bahwa struktur kekuasaan lama tengah diuji. Ke depan, bagaimana relasi antara suku, SDF, dan Damaskus dibentuk akan menentukan arah stabilitas kawasan.

Dengan berubahnya peta kendali di selatan Hasakah, Suriah timur laut kembali memasuki fase penting. Perkembangan ini membuka kemungkinan lahirnya tatanan baru yang akan membentuk masa depan Jazira dalam waktu dekat.

Gubernur Deir Ezzour menyampaikan imbauan kepada seluruh warga dan elemen bersenjata di provinsi tersebut agar menahan diri dan tidak merusak fasilitas publik di tengah dinamika keamanan yang sedang berlangsung. Ia menegaskan bahwa gedung pemerintahan, jaringan listrik, instalasi air, sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur pelayanan umum lainnya merupakan aset milik rakyat yang dibangun dengan biaya besar dan dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam pernyataannya, gubernur menekankan bahwa menjaga fasilitas umum adalah tanggung jawab bersama, terlepas dari perbedaan politik maupun afiliasi kelompok. Ia mengingatkan bahwa perusakan infrastruktur hanya akan memperpanjang penderitaan warga sipil dan menghambat upaya pemulihan serta stabilisasi Deir Ezzour, seraya mengajak tokoh suku, pemuka masyarakat, dan generasi muda untuk berperan aktif melindungi kepentingan publik dan menjaga ketertiban.


Baca selanjutnya

Post a Comment

Powered by Blogger.