Konflik etnis dan perjuangan kelompok bersenjata telah menjadi fenomena yang rumit di berbagai belahan dunia. Dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, sejumlah organisasi etnis bersenjata muncul dengan tujuan mempertahankan identitas, wilayah, dan otonomi mereka. Salah satu contohnya adalah Kachin Independence Army (KIA) di utara Myanmar, yang berjuang untuk hak-hak etnis Kachin.
KIA memiliki sejarah panjang konflik melawan pemerintah pusat Myanmar, Tatmadaw. Selama bertahun-tahun, mereka mengembangkan jaringan militer dan logistik sendiri, memanfaatkan wilayah perbatasan Kachin yang strategis untuk mengatur operasi, pelatihan, dan penyimpanan senjata. Model ini mirip dengan kelompok etnis lain yang mengusung otonomi lokal.
Struktur KIA menunjukkan karakteristik yang mirip dengan PKK di Timur Tengah. Kedua organisasi ini berbasis etnis dan menekankan pertahanan komunitas mereka sebagai inti perjuangan. PKK beroperasi untuk memperjuangkan hak Kurdi di Turki, Irak, dan Suriah, sementara KIA fokus pada Kachin di Myanmar.
Selain itu, KIA membangun jaringan cabang di wilayah perbatasan, termasuk di daerah yang berbatasan dengan Bangladesh. Hubungan mereka dengan Kuki-Chin National Front (KNF) menunjukkan pola yang serupa dengan cabang PKK di Suriah, YPG/SDF, dan PJAK di Iran. Keduanya memanfaatkan jaringan lokal untuk mendukung tujuan strategis mereka.
KIA pernah menjadi perhatian badan intelijen asing, termasuk CIA, karena posisi strategis mereka dekat perbatasan China dan India. Dukungan ini bersifat geopolitik, bukan ideologis, untuk menekan pemerintah Myanmar, sama halnya dengan PKK yang mendapat simpati dari diaspora Kurdi dan beberapa aktor internasional di masa lalu.
Kuki-Chin National Front sendiri beroperasi di Chittagong Hill Tracts, Bangladesh, dan memiliki hubungan dengan kelompok militan Islamis Jama’atul Ansar Fil Hindal Sharqiya (JA-FHS). Hubungan ini lebih bersifat pragmatis: Kuki-Chin menyediakan basis dan pelatihan, sementara JA-FHS mendapat akses logistik dan tempat aman untuk kegiatan militernya.
JA-FHS merupakan organisasi Islamis ekstremis yang aktif di Bangladesh sejak 2017. Mereka berfokus pada agenda ideologi jihad, merekrut anggota dari kelompok militan lama seperti Ansar Al Islam, Harkat-ul-Jihad-al-Islami Bangladesh, dan Jamaat-ul-Mujahideen Bangladesh. Tujuan mereka jelas berbeda dengan perjuangan etnis Kuki-Chin.
Meski begitu, kolaborasi antara Kuki-Chin dan JA-FHS terjadi karena kepentingan bersama: pertahanan wilayah dan pelatihan militer. Kuki-Chin memanfaatkan keberadaan JA-FHS untuk memperkuat posisi mereka, sedangkan JA-FHS mendapatkan perlindungan dan lokasi strategis untuk membangun jaringan militan di Chittagong Hill Tracts.
Di sisi lain, SDF/YPG di Suriah Timur juga mencontoh model “franchise” serupa PKK. SDF menjadi cabang militer PKK di Suriah, menekankan pertahanan komunitas Kurdi, dan mengelola wilayah secara de facto meski tidak diakui secara resmi oleh pemerintah Suriah.
Ketiga organisasi ini menunjukkan pola umum: penggunaan wilayah perbatasan strategis, pembangunan jaringan cabang, dan manajemen basis lokal untuk tujuan strategis. Baik KIA, PKK, maupun SDF sama-sama memanfaatkan konflik geopolitik atau internal negara untuk memperkuat posisi mereka.
KIA, seperti PKK, menekankan hubungan lintas perbatasan. Wilayah pegunungan Kachin di Myanmar memungkinkan mereka mengatur operasi militer, logistik, dan pelatihan tanpa gangguan langsung dari pemerintah pusat. SDF juga mengandalkan wilayah Suriah Timur yang relatif terisolasi.
Kuki-Chin, dengan hubungan JA-FHS, menunjukkan bagaimana kelompok etnis bisa memanfaatkan aliansi sementara dengan kelompok ideologis berbeda demi keuntungan operasional. Ini berbeda dengan PKK/YPG yang tetap berfokus pada agenda etnis dan ideologi yang konsisten.
Hubungan KIA dengan CIA di masa lalu bersifat strategis, untuk menekan pemerintah Myanmar. Dukungan ini tidak terkait ideologi jihad, berbeda dengan tujuan JA-FHS yang lebih bersifat transnasional dan ekstremis. Pola ini mirip PKK yang menerima simpati dari diaspora Kurdi tetapi tetap mengutamakan agenda otonomi.
SDF/YPG juga mencontoh model franchise PKK dengan menjaga kontrol wilayah de facto, mengatur administrasi lokal, dan mengelola keamanan internal. Hal ini memperlihatkan kesamaan strategi antara Asia Tenggara dan Timur Tengah dalam mempertahankan identitas etnis di tengah tekanan negara pusat.
Kolaborasi Kuki-Chin dengan JA-FHS menunjukkan kompleksitas hubungan antara kelompok etnis dan ideologis. Meskipun tujuan akhirnya berbeda, kepentingan operasional bersama memungkinkan terjadinya kerja sama yang pragmatis.
Ketiga contoh ini menyoroti bagaimana kelompok etnis dan militan memanfaatkan jaringan lokal dan lintas batas. Wilayah yang sulit dijangkau menjadi faktor penting dalam keberhasilan operasi mereka, baik untuk latihan, penyimpanan senjata, maupun manajemen wilayah.
KIA, PKK, dan SDF sama-sama menghadapi dilema antara legitimasi politik dan tekanan militer. Mereka harus menyeimbangkan kebutuhan pertahanan etnis dengan tuntutan negara pusat, serta menjaga hubungan dengan aliansi luar yang kadang bertentangan dengan ideologi utama.
Kuki-Chin dan JA-FHS juga menghadapi tekanan hukum dari pemerintah Bangladesh. Penangkapan pendiri JA-FHS dan anggota Kuki-Chin menunjukkan bahwa strategi kolaboratif mereka menghadapi risiko tinggi, mirip dengan PKK yang terus menghadapi operasi militer Turki.
Analisis ini memperlihatkan pola umum dalam konflik etnis dan militan: pemanfaatan wilayah strategis, hubungan lintas perbatasan, cabang operasional, dan aliansi pragmatis. Strategi ini diterapkan baik di Asia Tenggara maupun Timur Tengah.
KIA, PKK, dan SDF menunjukkan bahwa perjuangan etnis bisa memanfaatkan geopolitik global untuk mempertahankan wilayah dan identitas. Meskipun ada perbedaan ideologi, strategi organisasi-organisasi ini menunjukkan kesamaan dalam manajemen konflik dan operasi militer.
Akhirnya, hubungan Kuki-Chin dengan JA-FHS, KIA dengan CIA, dan SDF dengan PKK menegaskan bahwa konflik modern sering melibatkan kombinasi etnis, ideologi, dan kepentingan geopolitik. Hubungan ini tidak selalu linier, tetapi menunjukkan kompleksitas perang proksi dan strategi pertahanan etnis di berbagai belahan dunia.
Post a Comment